<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Informasi dan Teknologi</title>
	<atom:link href="http://iyokjunior.host56.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://iyokjunior.host56.com</link>
	<description>iyokjunior, iyok. Iyok, suryo, suryo dwiyono, tik, sman9, smalan, sma 9, sma n 9, sma negeri 9 bandar lampung, komputer, multimedia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 24 Feb 2012 12:06:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Rayhan Pratama Surya</title>
		<link>http://iyokjunior.host56.com/?p=349</link>
		<comments>http://iyokjunior.host56.com/?p=349#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 12:12:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suryo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rayhan]]></category>
		<category><![CDATA[» Featured Content]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iyokjunior.host56.com/?p=349</guid>
		<description><![CDATA[Setelah 9 Bulan 10 Hari, Alhamdulilah telah lahir dengan selamat Putra Pertama ku pada hari Jumat, 10 Februari 2012 (17 Rabiul Awal 1433 H) Pukul 14.40 WIB dengan berat badan 3kg dan panjang badan 49cm. Yang kami beri nama RAYHAN PRATAMA SURYA Panggilannya TAMA. Nama itu kami pilih untuk Putra Pertama kami. Nama adalah doa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://iyokjunior.host56.com/?p=349" title="Link to Rayhan Pratama Surya"><img class="wppt_float_left" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-post-thumbnail/n08mz8.jpg" alt="" title="" width="200" height="110" /></a>
				<!-- Social Sharing Toolkit v2.0.4 | http://www.marijnrongen.com/wordpress-plugins/social_sharing_toolkit/ -->
				<div class="mr_social_sharing_wrapper"><span class="mr_social_sharing"><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fiyokjunior.host56.com%2F%3Fp%3D349&amp;text=Rayhan+Pratama+Surya&amp;via=Twitter" target="_blank" class="mr_social_sharing_popup_link"><img src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/plugins/social-sharing-toolkit/images/buttons/twitter.png" alt="Share on Twitter" title="Share on Twitter"/></a></span></div><div id="attachment_354" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/uploads/2012/02/DSC_0421_.jpg"><img class="size-medium wp-image-354" title="Rayhan Pratama Surya" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/uploads/2012/02/DSC_0421_-300x200.jpg" alt="Rayhan Pratama Surya" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Rayhan Pratama Surya</p></div>
<p>Setelah 9 Bulan 10 Hari, Alhamdulilah telah lahir dengan selamat Putra Pertama ku pada hari Jumat, 10 Februari 2012 (17 Rabiul Awal 1433 H) Pukul 14.40 WIB dengan berat badan 3kg dan panjang badan 49cm. Yang kami beri nama</p>
<blockquote><p><strong>RAYHAN PRATAMA SURYA</strong></p></blockquote>
<p>Panggilannya TAMA.<br />
Nama itu kami pilih untuk Putra Pertama kami. Nama adalah doa yang mengandung harapan dari ayah dan bundanya, begitupun nama putra kami yang kurang lebih bermakna:</p>
<p>Rayhan berasal dari bahasa Arab yang berarti dicintai Tuhan<br />
Pratama adalah anak laki-laki pertama<br />
Surya di ambil dari namaku yang memiliki arti Cahaya/Penerang</p>
<p>Jadi arti nama <strong>Rayhan Pratama Surya</strong> : <em>Anak laki-laki yang dicintai Allah sebagai Penerang</em>.</p>
<p>Semoga kelak my baby TAMA, bisa jadi anak yang sholeh dg akhlak mulia dan jd kebanggaan mama papa dan mencintai&amp;dicintai ALLAH,amin..</p>
<p>RAYHAN PRATAMA SURYA</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iyokjunior.host56.com/?feed=rss2&#038;p=349</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Samsung GALAXY Y</title>
		<link>http://iyokjunior.host56.com/?p=323</link>
		<comments>http://iyokjunior.host56.com/?p=323#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 18:04:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suryo</dc:creator>
				<category><![CDATA[» Smartphone]]></category>
		<category><![CDATA[» Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[smartphone]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iyokjunior.host56.com/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[Awali hidup baru pintar Anda dengan Samsung GALAXY Y Samsung S5360 untuk Anda yang muda dan dinamis dimana saja dan ingin tetap berhubungan dan terhubung. Dilengkapi dengan sistem operasi Android terkini dengan aplikasi menarik, download lebih cepat, konektivitas Wi-Fi dan intuitif yang lebih menarik. Akses aplikasi berbasis web dan mobile internet dengan lebih mudah untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://iyokjunior.host56.com/?p=323" title="Link to Samsung GALAXY Y"><img class="wppt_float_left" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-post-thumbnail/a1IBSz.jpg" alt="" title="" width="200" height="110" /></a>
				<!-- Social Sharing Toolkit v2.0.4 | http://www.marijnrongen.com/wordpress-plugins/social_sharing_toolkit/ -->
				<div class="mr_social_sharing_wrapper"><span class="mr_social_sharing"><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fiyokjunior.host56.com%2F%3Fp%3D323&amp;text=Samsung+GALAXY+Y&amp;via=Twitter" target="_blank" class="mr_social_sharing_popup_link"><img src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/plugins/social-sharing-toolkit/images/buttons/twitter.png" alt="Share on Twitter" title="Share on Twitter"/></a></span></div><p>Awali hidup baru pintar Anda dengan <strong>Samsung GALAXY Y Samsung S5360</strong> untuk Anda yang muda dan dinamis dimana saja dan ingin tetap berhubungan dan terhubung. Dilengkapi dengan sistem operasi Android terkini dengan aplikasi menarik, download lebih cepat, konektivitas Wi-Fi dan intuitif yang lebih menarik. Akses aplikasi berbasis web dan mobile internet dengan lebih mudah untuk generasi baru yang selalu bergerak.</p>
<div>
<div><img src="http://www.samsung.com/id/system/consumer/product/2011/10/20/gt_s5360maaxse/main_01.jpg" alt="Powerful &amp; Compact" /></div>
<div>
<h2>Powerful &amp; Compact</h2>
<div>Kinerja yang kuat berpadu dalam gaya, desain kompak dalam prosesor Samsung GALAXY Y. Dengan prosesor yang lebih kuat, kecepatan download 7,2Mbps membuat ponsel ini menjadi pemenang. Dilengkapi dengan bodi kompak yang menarik dan layar 3&#8243; yang membuat Anda merasa nyaman saat melihat video dan bermain game.</div>
</div>
</div>
<div>
<div><img src="http://www.samsung.com/id/system/consumer/product/2011/10/20/gt_s5360maaxse/main_02.jpg" alt="Rich Smart Experience" /></div>
<div>
<h2>Rich Smart Experience</h2>
<div>Dengan sistem operasi Android yang paling up-to-date memberikan pengalaman pengguna yang halus dan dilengkapi dengan layanan Google Mobile yang menakjubkan antarmuka aplikasi berbasis web dengan berbagai pilihan dalam hiburan, rekreasi dan pilihan gaya hidup. Social Hub mengintegrasikan teks, pesan, email dan update SNS menjadi satu portal tunggal untuk diakses setiap saat. Free Samsung Apps (dan yang berbayar) keduanya berguna dan berharga dan membuat hidup Anda menjadi lebih mudah dan menyenangkan.</div>
</div>
</div>
<div>
<div><img src="http://www.samsung.com/id/system/consumer/product/2011/10/20/gt_s5360maaxse/main_03.jpg" alt="Smart but Easy-to-Use" /></div>
<div>
<h2>Smart but Easy-to-Use</h2>
<div>Nikmati TouchWiz UI yang mengesankan secara visual dan penyempurnaan interface yang lebih berwarna. Anda dapat sesukanya menyesuaikan homescreen Anda karena Anda mengetahui fitur, aplikasi dan konten yang paling penting bagi Anda. Fungsi Multi-touch zoom untuk web browsing dapat memperbesar halaman website dan memperoleh setiap detil. Anda juga dapat mencari aplikasi dan daftar kontak Anda dengan teks atau suara untuk menemukan apa pun atau siapapun yang Anda inginkan.</div>
</div>
</div>
<div>
<div><img src="http://www.samsung.com/id/system/consumer/product/2011/10/20/gt_s5360maaxse/fitur_color.jpg" alt="Colour your smart life" /></div>
<div>
<h2>Colour your smart life</h2>
<div>Berbagai pilihan warna memenuhi berbagai kebutuhan Anda. Cocokkan warna dengan suasana hati Anda, dan ekspresikan diri dengan Samsung GALAXY Y.<br />
* Pilihan warna dapat bervariasi pada masing-masing negara</div>
</div>
</div>
<div>
<div>
<h2>WiFi and Tethering</h2>
<p><img src="http://www.samsung.com/id/system/consumer/product/2011/10/20/gt_s5360maaxse/sub_01.jpg" alt=" WiFi and Tethering  " /></p>
<div>Tetap terhubung dengan dua pilihan wireless dan wired yang tersedia pada Samsung GALAXY Y. Tak perlu khawatir mengenai terhubung Internet dengan Wi-Fi (b/g/n) untuk koneksi wireless yang lebih stabil dan aman sehingga Anda dapat mengirim dan mengakses rekening secara online kapan saja. Aplikasi tethering juga memungkinkan berbagi koneksi Internet tablet atau laptop melalui ponsel Anda</div>
</div>
<div>
<div><img src="http://www.samsung.com/id/system/consumer/product/2011/10/20/gt_s5360maaxse/c1.jpg" alt="Quick type by SWYPE " /></div>
<div>
<h2>Quick type by SWYPE</h2>
<div>Samsung GALAXY Y ini dilengkapi dengan fitur Swype, interface cerdas yang menghubungkan titik-titik yang dibuat jari Anda untuk mencari tahu apa yang coba ditulis.</div>
</div>
</div>
<div>
<div><img src="http://www.samsung.com/id/system/consumer/product/2011/10/20/gt_s5360maaxse/c3.jpg" alt="2MP Camera " /></div>
<div>
<h2>2MP Camera</h2>
<div>Ambil gambar dengan kamera 2MP dan mulailah berbagi foto melalui jejaring sosial favoritmu dengan segera.</div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iyokjunior.host56.com/?feed=rss2&#038;p=323</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Lensa Kamera</title>
		<link>http://iyokjunior.host56.com/?p=317</link>
		<comments>http://iyokjunior.host56.com/?p=317#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 17:49:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suryo</dc:creator>
				<category><![CDATA[» Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iyokjunior.host56.com/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bidang fotografi, lensa merupakan alat vital dari kamera yang berfungsi memfokuskan cahaya hingga mampu membakar medium penangkap (atau lebih umum dikenal dengan nama film). Terdiri atas beberapa lensa yang berjauhan yang bisa diatur sehingga menghasilkan ukuran tangkapan gambar dan variasi fokus yang berbeda. Di bagian luar lensa fotografi biasanya ditempatkan tiga cincin pengatur, yaitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://iyokjunior.host56.com/?p=317" title="Link to Mengenal Lensa Kamera"><img class="wppt_float_left" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-post-thumbnail/dakDzt.jpg" alt="" title="" width="200" height="110" /></a>
				<!-- Social Sharing Toolkit v2.0.4 | http://www.marijnrongen.com/wordpress-plugins/social_sharing_toolkit/ -->
				<div class="mr_social_sharing_wrapper"><span class="mr_social_sharing"><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fiyokjunior.host56.com%2F%3Fp%3D317&amp;text=Mengenal+Lensa+Kamera&amp;via=Twitter" target="_blank" class="mr_social_sharing_popup_link"><img src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/plugins/social-sharing-toolkit/images/buttons/twitter.png" alt="Share on Twitter" title="Share on Twitter"/></a></span></div><div>
<p>Dalam bidang fotografi, lensa merupakan alat vital dari kamera yang berfungsi memfokuskan cahaya hingga mampu membakar medium penangkap (atau lebih umum dikenal dengan nama film). Terdiri atas beberapa lensa yang berjauhan yang bisa diatur sehingga menghasilkan ukuran tangkapan gambar dan variasi fokus yang berbeda.</p>
<p>Di bagian luar lensa fotografi biasanya ditempatkan tiga cincin pengatur, yaitu cincin panjang fokus (untuk lensa jenis variabel), cincin diafragma, dan cincin fokus.<br />
Fokus adalah bagian yang mengatur jarak ketajaman lensa sedangkan diafragma adalah bagian yang mengatur bukaan rana sehingga banyak cahaya yang masuk bisa diatur sesuai dengan kebutuhan (lebih lengkap dibahas di fotografi).<br />
Berikut adalah macam lensa-lensa :</p>
<p><strong>Lensa Cepat</strong><br />
Lensa cepat (fast lens) adalah lensa dengan nilai tingkap tunggal yang merupakan nilai maksimumnya. Dengan tingkap tunggal, sebuah lensa cepat masih mempunyai beberapa variasi nilai bukaan yang lebih besar.</p>
<p>Beberapa lensa tercepat yang pernah dibuat adalah:</p>
<ul>
<li>Carl Zeiss 50mm Templat:F/0.7 (Produksi terbatas yang dibuat untuk NASA)</li>
<li>Tokyo Kogaku Toko 5cm Templat:F/0.7 (WWII) dan Simlar 5cm Templat:F/0.7 (1951, hanya dibuat sebanyak tiga buah, dua diantaranya digunakan pada ekspedisi ke kutub selatan)</li>
<li>Rodenstock TV-Heligon 50mm Templat:F/0.75</li>
<li>Nikon TV-Nikkor 35mm Templat:F/0.9 Lensa tercepat yang pernah dibuat oleh Nikon</li>
<li>Leica Noctilux-M 50 mm f/0.95 ASPH, diperkenalkan pada 15 September 2008, merupakan lensa aspherical tercepat yang pernah diproduksi.</li>
<li>Canon 50mm Templat:F/0.95</li>
<li>Schneider Kreuznach 50mm Templat:F/0.95 ‘Xenon’</li>
<li>Leica Noctilux 50mm Templat:F/1.0 (Leica M mount, diskontinu pada tahun 2008 dan diganti dengan Noctilux)</li>
<li>Canon EF 50mm Templat:F/1.0</li>
<li>Canon 8.5-25.5 mm Templat:F/1.0 lensa zoom, dibuat 1975-1983 untuk 310XL Super 8mm seri kamera silent and sound, merupakan lensa tercepat yang pernah dibuat untuk Super8.</li>
</ul>
<p><strong>Lensa lambat</strong><br />
Digunakan untuk mengimbangi setting kecepataan bukaan rana sangat rendah di badan kamera.</p>
<p><strong>Lensa fokus halus</strong><br />
Lensa fokus halus (soft focus lens) adalah lensa dengan aberasi speris.<br />
Soft focus adalah sebuah efek pada fotografi yang disebabkan oleh blur akibat aberasi speris kanta. Sebuah lensa fokus halus didesain untuk menimbulkan efek blur tersebut namun tetap menjaga ketajaman setiap garis dari subyeknya. Efek soft focus yang ditimbulkan oleh lensa ini tidak sama dengan efek out of focus yang disebabkan posisi subyek di luar bidang fokus.</p>
<p>Contoh lensa fokus lunak adalah Canon EF 135mm f/2,8 with Softfocus dan Pentax SMC 28mm f/2,8 FA Soft Lens. Keduanya dilengkapi dengan sistem pengaturan aberasi speris, jika aberasi speris tersebut dimatikan, lensa akan menghasilkan citra dengan fokus yang tajam seperti lensa lain pada umumnya.</p>
<p><strong>Lensa Sudut Lebar</strong></p>
<div id="attachment_318" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img class="size-full wp-image-318" title="Lensa Sudut Lebar" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/uploads/2011/11/lensa-sudut-lebar.jpg" alt="Lensa Sudut Lebar" width="600" height="401" /><p class="wp-caption-text">Lensa Sudut Lebar</p></div>
<p>Lensa sudut lebar Canon 17-40 mm f/4 L retrofocus zoom.<br />
Lensa sudut lebar (wide angle lens) adalah lensa dengan panjang fokus lebih pendek daripada lensa normal, sesuai dengan ukuran bingkai citra pada bidang film pada kamera film, maupun dimensi sensor foto pada bidang fokal pada kamera digital.</p>
<p>Menurut standar fotografi, lensa normal adalah lensa yang mempunyai panjang fokus mendekati panjang diagonal bidang fokal. Lensa sudut lebar dengan panjang fokus yang lebih pendek akan memproyeksikan lingkaran citra yang lebih besar ke bidang fokal.</p>
<p><strong>Lensa tele</strong><br />
Lensa tele (telephoto lens) adalah lensa dengan konstruksi panjang yang lebih pendek daripada panjang fokusnya sehingga mengakibatkan pusat optis (optical center) berada di luar badan lensa. Sebuah lensa tele dapat dikenali dengan adanya susunan kanta komposit yang ditemukan oleh Peter Barlow.<br />
Sebuah lensa regular yang mempunyai panjang lensa lebih pendek daripada panjang fokusnya, tidak selalu berupa lensa tele. Tetapi pada kenyataan sebuah lensa dengan panjang fokus di atas 280mm selalu dikatakan lensa tele.</p>
<p>Jika sebuah lensa kamera berada pada panjang fokus 200mm dan terfokus ke jarak tak terhingga, exit pupil tersebut berada pada jarak 200mm dari bidang fokal dan pupil tersebut menjadi pusat optis lensa. Ketika panjang fokus lensa ini bertambah, panjang fisik badan lensa akan bertambah panjang jika lensa ini bukan lensa tele. Namun tidak demikian dengan lensa tele, susunan kanta telephoto group membuat cahaya yang dilewatkan oleh kata depan, seakan-akan berasal dari kata dengan panjang fokus yang sangat panjang sebelum diteruskan ke bidang fokal karena sifat fokus negatif susunan kanta ini.</p>
<p>Lensa tele terberat yang pernah ada, dibuat oleh Carl Zeiss dengan panjang fokus 1700mm f/4 dengan panjang badan lensa 425mm dan berat 256 kg. Didesain untuk kamera medium format Hasselblad 203 FE.</p>
<p><img src="http://fotografi.blog.gunadarma.ac.id/wp-content/uploads/2011/01/lensa-tele-300x113.png" alt="" width="300" height="113" /></p>
<p>Gambar penampang lensa tele sederhana :<br />
L1 – Tele positive lens group<br />
L2 – Tele negative lens group<br />
D – Diaphragm</p>
<p><strong>Lensa Variabel</strong></p>
<p>Lensa superzoom Nikkon 28-200 mm dengan ukuran 7x, terpanjang pada 200 mm (kiri) dan terpendek pada panjang fokus 28 mm (kanan). Lensa variabel (varifocal lens, zoom lens) adalah lensa yang tidak dapat mempertahankan bidang fokus pada saat terjadi perubahan panjang fokus karena posisi bidang fokal juga ikut tergeser, sehingga diperlukan pemfokusan ulang setiap terjadi perubahan panjang fokus.</p>
<p>Panjang fokus dari lensa variabel tidak tunggal, tetapi dapat diubah-ubah pada rentang tertentu dari nilai minimum ke nilai maksimumnya. Ukuran lensa variabel sering ditentukan dengan rasio dari panjang fokus lensa yang terpanjang dan terpendek, misalnya sebuah lensa dengan panjang fokus 100mm ke 400mm, dijelaskan sebagai 4:1 atau “4x” zoom.</p>
<p>Dengan teknologi pengembangan lensa yang modern, degradasi mutu citra yang dihasilkan oleh lensa variabel, dibandingkan dengan lensa prima, sangatlah minim. Hal ini berbeda dengan sekitar 20 tahun yang lalu, ketika dengan pertimbangan untuk mempertahankan mutu citra, banyak fotografer profesional saat itu memilih untuk bekerja dengan tidak mengandalkan lensa variabel. Walaupun demikian, masih dikatakan bahwa hingga tahun 2009, belum ada lensa variabel dengan ukuran di atas 3x yang dapat menandingi lensa prima dalam hal mutu citra. Tentu hal ini bergantung juga pada kepiawaian seorang fotografer dalam mengatur cahaya, mempertahankan stabilitas kamera dari goncangan selama waktu pajanan dan olah digital.</p>
<p><strong>Lensa superzoom</strong></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img title="Lensa superzoom" src="http://fotografi.blog.gunadarma.ac.id/wp-content/uploads/2011/01/lensa-superzoom-300x283.jpg" alt="Lensa superzoom" width="300" height="283" /><p class="wp-caption-text">Lensa superzoom</p></div>
<p style="text-align: center;">Lensa superzoom (superzoom lens, hyperzoom lens) adalah lensa fotografi dengan faktor panjang fokus (focal length factor) yang sangat besar, lebih besar dari 4x.</p>
<p>Faktor panjang fokus dapat berkisar hingga 15x zoom pada kamera refleks lensa tunggal dan 26x pada kamera digital, hingga 100x pada kamera televisi profesional.</p>
<p><strong>Lensa tetap</strong></p>
<p>Lensa tetap (prime lens) adalah lensa dengan panjang fokus tunggal. Lensa tetap sering dikatakan mempunyai nilai lebih pada ketajaman hasil citra. Dengan ukuran yang lebih kecil, lensa tetap mempunyai bobot yang lebih ringan dan harga yang lebih murah dibandingkan dengan lensa zoom pada mutu yang sama. Lensa prima juga mempunyai kelebihan pada kecepatan lensa dan dengan diameter tingkap yang besar (nilai bukaan yang kecil), sebuah lensa tetap menjadi lebih handal untuk digunakan pada pemotretan low light photography dan menimbulkan efek blur dengan kedalaman ruang yang rendah.</p>
<p>Dalam bahasa Inggris, istilah prime dalam konteks lensa telah digunakan sebagai lawan kata zoom. Sebuah lensa prima dengan panjang fokus tunggal dan lensa zoom dengan panjang fokus variabel.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iyokjunior.host56.com/?feed=rss2&#038;p=317</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>14 Tips Lanscape</title>
		<link>http://iyokjunior.host56.com/?p=305</link>
		<comments>http://iyokjunior.host56.com/?p=305#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 17:24:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suryo</dc:creator>
				<category><![CDATA[» Featured Content]]></category>
		<category><![CDATA[» Tips & Trik]]></category>
		<category><![CDATA[photografi]]></category>
		<category><![CDATA[preview]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iyokjunior.host56.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[1. Maksimalkan Depth of Field (DoF) Sebuah pendekatan konsep normal dari sebuah landscape photography adalah “tajam dari ujung kaki sampai ke ujung horizon”. Konsep dasar teori “oldies” ini menyatakan bahwa sebuah foto landscape selayaknya sebanyak mungkin semua bagian dari foto adalah focus (tajam). Untuk mendapatkan ketajaman lebar atau dgn kata lain bidang depth of focus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://iyokjunior.host56.com/?p=305" title="Link to 14 Tips Lanscape"><img class="wppt_float_left" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-post-thumbnail/2oBpD2.jpg" alt="" title="" width="200" height="110" /></a>
				<!-- Social Sharing Toolkit v2.0.4 | http://www.marijnrongen.com/wordpress-plugins/social_sharing_toolkit/ -->
				<div class="mr_social_sharing_wrapper"><span class="mr_social_sharing"><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fiyokjunior.host56.com%2F%3Fp%3D305&amp;text=14+Tips+Lanscape&amp;via=Twitter" target="_blank" class="mr_social_sharing_popup_link"><img src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/plugins/social-sharing-toolkit/images/buttons/twitter.png" alt="Share on Twitter" title="Share on Twitter"/></a></span></div><h2>1. Maksimalkan Depth of Field (DoF)</h2>
<p>Sebuah pendekatan konsep normal dari sebuah landscape photography adalah “tajam dari ujung kaki sampai ke ujung horizon”. Konsep dasar teori “oldies” ini menyatakan bahwa sebuah foto landscape selayaknya sebanyak mungkin semua bagian dari foto adalah focus (tajam). Untuk mendapatkan ketajaman lebar atau dgn kata lain bidang depth of focus (DOF) yang selebar2nya, bisa menggunakan apperture (bukaan diafragma) yang sekecil mungkin (f number besar), misalnya f14, f16, f18, f22, f32, dst. Tentu saja dgn semakin kecilnya apperture, berarti semakin lamanya exposure.</p>
<p>Karena keterbatasan lensa (yang tidak mampu mencapai f32 dan/atau f64) atau posisi spot di mana kita berdiri tidak mendukung, sebuah pendekatan lain bisa kita gunakan, yaitu teori hyper-focal, untuk mendapatkan bidang fokus yang “optimal” sesuai dgn scene yang kita hadapi. Inti dari jarak hyper-focal adalah meletakan titik focus pada posisi yang tepat untuk mendapatkan bidang focus yg seluas-luasnya yg dimungkinkan sehingga akan tajam dari FG hingga ke BG.<br />
Dengan DoF lebar, akibat penggunaan f/20 dan pengaplikasian hyper-focal distance untuk menentukan focus<br />
Masih dgn pengaplikasikan hyper-focal untuk mendapatkan DoF yg seluas2nya.</p>
<h2>2. Gunakan tripod dan cable release</h2>
<p>Akibat dari semakin lebarnya DOF yang berakibat semakin lamanya exposure, dibutuhkan tripod untuk long exposure untuk menjamin agar foto yang dihasilkan tajam. Cable release juga akan sangat membantu. Jika kamera memiliki fasilitas untuk mirror-lock up, maka fasilitas itu bisa juga digunakan untuk menghindari micro-shake akibat dari hentakkan mirror saat awal.</p>
<h2>3. Carilah Focal point atau titik focus</h2>
<p>Titik focus disini bukanlah titik dimana focus dari kamera diletakkan, tapi lebih merupakan titik dimana mata akan pertama kali tertuju (eye-contact) saat melihat foto. Hampir semua foto yang “baik” mempunyai focal point, atau titik focus atau lebih sering secara salah kaprah disebut POI (Point of Interest). Sebetulnya justru sebuah landscape photography membutuhkan sebuah focal point untuk menarik mata berhenti sesaat sebelum mata mulai mengexplore detail keseluruhan foto. Focal point tidak mesti harus menjadi POI dari sebuah foto. Sebuah foto yang tanpa focal point, akan membuat mata “wandering” tanpa sempat berhenti, yang mengakibatkan kehilangan ketertarikan pada sebah foto landscape. Sering foto seperti itu disebut datar (bland) saja.  Focal point bisa berupa berupa bangunan (yg kecil atau unik diantara dataran kosong), pohon (yg berdiri sendiri), batu (atau sekumpulan batu), orang atau binatang, atau siluet bentuk yg kontrast dgn BG, dst.  Peletakan dimana focal point juga kadang sangat berpengaruh, disini aturan “oldies” Rule of Third bermain.</p>
<h2><strong>4. </strong><strong>Carilah Foreground (FG)</strong></h2>
<p>Foreground bisa menjadi focal point bahkan menjadi POI (Point of Interest) dalam foto landscape anda. Oleh sebab itu carilah sebuah FG yang kuat. Kadang sebuah FG yang baik menentukan “sukses” tidaknya sebuah foto landscape, terlepas dari bagaimanapun dasyatnya langit saat itu. Sebuah object atau pattern di FG bisa membuat “sense of scale” dr foto landscape kita.</p>
<h2><strong>5. Pilih langit atau daratan</strong></h2>
<p>Langit yang berawan bergelora, apalagi pada saat sunset atau sunrise, akan membuat foto kita menarik, tapi kita tetap harus memilih apakah kita akan membuat foto kita sebagian besar terdiri dari langit dgn meletakan horizon sedikit dibawah, atau sebagian besar daratan dgn meletakkan horizon sedikit dibagian atas. Seberapa bagus pun daratan dan langit yang kita temui/hadapi saat memotret, membagi 2 sama bagian antara langit yang dramatis dan daratan/FG yang menarik akan membuat foto landscape menjadi tidak focus, krn kedua bagian tersebut sama bagusnya. Komposisi dgn menggunakan prisip “oldies” Rule of Third akan sangat membantu. Letakkan garis horizon, di 1/3 bagian atas kalau kita ingin menonjolkan (emphasize) FG nya, atau letakkan horizon di 1/3 bagian bawah, kalau kita ingin menonjolkan langitnya.  Tentu saja hukum “Rule of Third” bisa dilanggar, andai pelanggaran itu justru memperkuat focal point dan bukan sebaliknya. Juga tidak selalu dead center adalah jelek.</p>
<div id="attachment_306" class="wp-caption aligncenter" style="width: 650px"><a href="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/uploads/2011/11/Lanscape-Photografi.jpg"><img class="size-full wp-image-306" title="Lanscape Photografi" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/uploads/2011/11/Lanscape-Photografi.jpg" alt="Lanscape Photografi" width="640" height="427" /></a><p class="wp-caption-text">Lanscape Photografi</p></div>
<h2><strong>6. Carilah Garis/ Lines/ Pattern</strong></h2>
<p>Sebuah garis atau pattern bisa membuat/menjadi focal yang akan menggiring mata untuk lebih jauh mengexplore foto landscape anda. Kadang leading lines atau pattern tersebut bahkan bisa menjadi POI dari foto tersebut. Garis-garis, juga bisa memberikan sense of scale atau image depth (kedalaman ruang).Garis atau pattern bisa berupa apa saja, deretan pohon, bayangan, garis jalan,tangga, tepi danau/laut,dst.Hanya dengan seringnya melakukan hunting atau photo trip, kita akan terbiasa melihat lines?shape dan pattern yang terkadang tersamarkan atau berbaur dengan alam atau lingkungannya. Angle dan komposisi dapat memperkuat sebuah leading lines atau shape yang ada.</p>
<h2>7. Capture moment &amp; movement</h2>
<p>Sebuah foto Landcsape tidak berarti kita hanya menangkap (capture) langit, bumi atau gunung, tapi semua elemen alam, baik itu diam atau bergerak seperti air terjun, aliran sungai, pohon2 yang bergerak, pergerakan awan, dst, dapat menjadikan sebuah foto landscape yang menarik. Sebuah foto landscape tidak harus mengambarkan sebuah pemandangan luas, seluas luasnya, tapi sebuah isolasi detail, baik object yang statis maupun yg secara dinamis bergerak, bisa menjadi sebuah subject dari sebuah foto landscape.</p>
<h2><strong>8. Bekerja sama dengan alam atau cuaca</strong></h2>
<p>Sebuah scene dapat dengan cepat sekali berubah. Oleh sebab itu menentukan kapan saat terbaik untuk memotret adalah sangat penting. Kadang kesempatan mendapat scene terbaik justru bukan pada saat cuaca cerah langit biru, tapi justru pada saat akan hujan atau badai atau setelah hujan atau badai, dimana langit dan awan akan sangat dramatis.<br />
Selain kesabaran dalam “menunggu” moment, kesiapan dalam setting peralatan dan kejelian dalam mencari object dan Focal Point seperti awan, ROL (ray of light), pelangi, kabut, dll.</p>
<h2><strong>9. </strong><strong>Golden Hours &amp; Blue hours</strong></h2>
<p>Pada normal colour landscape photography, saat terbaik biasanya adalah saat sekitar (sebelum) matahari terbenam (sunset) atau setelah matahari terbit (sunrise). Golden hours adalah saat, biasanya 1-2 jam sebelum matahari terbenam (sunset) hingga 30 menit sebelum matahari terbenam, dan 1-3 jam sejak matahari terbit, dimana “golden light” atau sinar matahari akan membuat warna keemasaan pada object. Selain itu, saat golden hours juga akan membuat bayangan pada oject, baik itu pohon, atau orang menjadi panjang dan bisa menjadi leading lines spt yg disebutkan pada #6 diatas. Jika kita memotret pada saat golden hours sudah lewat, atau pada saat matahari sudah terik, biasanya hasilnya akan flat atau harsh lightingnya krn matahari sudah jauh diatas.Ini berlawananan dgn IR landscape photography yg tidak mengenal golden hours, dimana saat terbaik justru pada saat tengah teriknya matahari.Blue hours adalah beberapa saat, biasanya hingga 20-30 menit setelah matahari terbenam (sunset), dimana matahari sudah tebenam, tapi langit belum gelap hitam pekat. Pada saat ini langit akan berwarna biru. Jadi adalah kurang tepat, bahwa pada saat matahari sudah terbenam dan langit mulai gelap (oleh mata kita), kita langsung mengemas/beres2 gear/tripod kita. Justru pada saat ini kita bisa mendapatkan sebuah scene yang bagus dimana langit akan berwarna biru dan tidak hitam pekat. Biasanya dgn long exposure, awan pun (walau kalau kita lihat dgn mata telanjang sdh tidak tampak) masih akan terlihat jelas dan memberikan texture pada birunya langit.</p>
<h2><strong>10. </strong><strong>Cek Horizon</strong></h2>
<p>Walaupun sekarang dgn mudah kesalahan ini dapat di koreksi dgn image editor tapi saya masih berkeyakinan “get it right the first time” akan lebih optimal.<br />
Ada 2 hal terakhir saat sebelum kita menekan shutter:</p>
<ul>
<li>Apakah horizonya sudah lurus, ada beberapa cara untuk bisa mendapatkan horion lurus saat eksekusi di lapangan.</li>
<li>Apakah horizon sdh di komposisikan dgn baik, untuk pengaplikasian Rule of third.</li>
</ul>
<p>Peraturan/rule kadang dibuat untuk dilangar, tapi jika scene yang akan kita buat tidak cukup kuat (strong) elementnya, biasanya Rule of Third akan sangat membantu membuat komposisi menjadi lebih baik. Memang dgn croping nantinya di software pengolah gambar, kita bisa memperbaikinya. Tapi kalau tidak dgn terpaksa, lebih baik pada saat eksekusi kita sudah menempatkan horizon pada posisi yang sebaiknya.</p>
<h2><strong>11. Ubah sudut pandang/angle/view anda</strong></h2>
<p>Kadang kita terpaku dgn sudut pandang atau angle yang umum kita lakukan, atau mungkin kalau kita mengunjungi suatu tempat yang sering kita lihat fotonya baik itu dimajalah atau website seperti di FN ini, kita menjadi “latah” dan memotret dgn angle yang sama.<br />
Banyak cara untuk mendapatkan fresh point of view. Tidak selamanya “eye-level angle” (posisi normal saat kita berdiri) dalam memotret itu yang terbaik. Coba dgn high-angle (kamera diangkat diatas kepala), waist-level angle, low level, dst, coba berbagai format horizontal dan/atau vertikal.</p>
<p>Atau mencoba mencari spot atau titik berdiri yang berbeda atau tempat yang berbeda, misalnya dari atas pohon (ada memang fotografer senior yang saya kenal yang senang memanjat pohon untuk utk mendapatkan view yg berbeda, dan hasilnya memang berbeda dan unik), atau mencoba berdiri lebih ketepi jurang, atau bahkan tiduran ditanah… tentu saja dgn lebih mengutamakan keselamatan anda sendiri sbg faktor yang lebih utama dan menghitung resiko yang mungkin didapatkan.</p>
<p>Satu hal yang harus dipahami, mencoba dengan sudut pandang yang berbeda tidak selalu otomatis gambar kita akan lebih bagus atau lebih baik, tapi begitu sekali anda mendapatkan yang lebih bagus, dijamin pasti berbeda dgn yang lain.<br />
Dengan sering ber-experimen dgn berbagai angle, lama-kelamaan insting anda akan terlatih saat berada di lapangan untuk mendapatkan tidak hanya angle yang bagus, tapi juga berbeda.<br />
Jangan memotret berulang2 pada satu titik/spot. Cobalah untuk bergeser beberapa meter kesamping atau kedepan, atau bahkan berjalan jauh.</p>
<p>Juga sesekali coba untuk menoleh kebelakang untuk melihat, kadang bisa mendapatkan angle yang menarik dan berbeda.<br />
3-5 exposure/jepretan pada satu titik dan “move on, change spot, change orientation (landscape &lt;-&gt; portrait), look back, change lenses”.</p>
<p>Terutama jika anda sering travelling, baik itu ke tempat yang sudah umum atau ke tempat yang jarang di kunjungi fotografer. Ada kalanya kita ada pada suatu spot dimana foto dari lokasi itu sudah merupakan lokasi “sejuta umat” dimana ratusan bahkan ribuan fotografer pernah memotret di spot yg sama dan menghasilkan foto yang mirip atau beda-beda tipis.</p>
<p>Gunakan foto-foto yang sering anda lihat tersebut sebagai referensi, pelajari dan aplikasikan tekniknya dan coba menemukan sesuatu yang berbeda. Make a difference.</p>
<h2><strong>12. Pergunakan peralatan bantu</strong></h2>
<p>Penggunaan beberapa peralatan bantu dibawah akan sangat membantu untuk mendapatkan foto landscape yang lebih baik.</p>
<ul>
<li>CPL filter : untuk lebih memekatkan/ saturasi warna, memekatkan warna biru pada langit, menghilangkan pantulan, dst.</li>
</ul>
<ul>
<li>ND filter : Untuk menurunkan exposure, untuk mendapatkan slow exposure speed. Dari ND2, ND4, ND8. ND400 hingga ND1000</li>
</ul>
<ul>
<li>Graduated ND filter :Untuk menyeimbangkan exposure antara bagian atas dan bawah, misalnya antara langit dan daratan. Dari ND 0.1, 0.2, 0.3, 0.6 hingga 1.2</li>
</ul>
<p><img title="article-156-Untitled-33" src="http://rini.student.umm.ac.id/files/2010/01/article-156-Untitled-33-300x128.jpg" alt="article-156-Untitled-33" width="300" height="128" /></p>
<p>Ada 2 type Graduated ND: Soft Edge &amp; Hard Edge</p>
<p><img title="article-156-Untitled-34" src="http://rini.student.umm.ac.id/files/2010/01/article-156-Untitled-34-300x128.jpg" alt="article-156-Untitled-34" width="300" height="128" /></p>
<ul>
<li>Graduated color filter, seperti graduated Sunset, Graduated Tobacco, Graduated Blue Fluorescent, dsb, dengan berbagai kepekatan dan type (mirip dgn normal Graduated ND) Bubble level : Untuk mendapatkan horizon yang level/datar sempurna. Bisa juga menggunakan grid pada view finder atau menggunakan focusing screen yang mempunyai grid.</li>
</ul>
<p>Memang dgn semakin mudahnya penggunaan software dan semakin canggihnya feature software pengolah gambar untuk memperbaiki/koreksi kesalahan pada saat eksekusi yang bisa mengatasi kesalahan exposure atau kemiringan horizon, penggunaan alat2 tersebut diatas kadang terasa kurang diperlukan, tapi umumnya “get it right the first time” akan bisa menghasilkan foto yang lebih baik dan natural, dibandingkan kalau foto itu harus dipermak habis-habisan nanti hanya agar bisa tampak “baik”. Jika sudah melakukan segalanya dgn baik dan benar, akan lebih terbuka luas lagi kemungkinannya untuk mengolahnya dgn lebih sempurna nantinya.</p>
<h2>13. Lensa yang dipergunakan</h2>
<div>Kadang sering ada asumsi bahwa sebuah foto landscape itu harus menggunakan lensa yang selebar mungkin. Tapi dalam membuat sebuah foto landscape, semua lensa dapat dipergunakan, dari lensa super wide (14mm, 16mm, dst), wide (20mm – 35m), medium, (50mm – 85mm), hingga tele/super tele (100mm – 600mm). Semua range lensa bisa dan dapat dipergunakan.</div>
<div>Semua itu tergantung atas kebutuhan dan scene yang kita hadapi. Lensa wide/super wide kadang dibutuhkan jika kita ingin merangkum sebuah scene seluas-luasnya dgn memasukan object yang banyak atau yang berjauhan atau ingin mendapatkan perspektif yg unik.Tapi kadang sebuah tele bisa digunakan untuk mengisolasi scene sehingga lebih un-cluttered, simple dan focus.</div>
<div>Jika tiba pada suatu lokasi/spot, usahakan mencoba dgn semua lensa yang anda bawa. Jangan terpaku pada satu lensa dan memotret berulang-ulang.</div>
<div>Kadang diperlukan kejelian, untuk melihat dan mencari suatu bentuk unik atau pattern dari luasnya sebuah scene landscape, sehingga kita dapat meng-isolasi dgn menggunakan lensa yang tepat. Hanya dengan sering memotret dan menghadapi berbagai scene di berbagai kondisi yang dapat mengasah insting anda, baik itu object apa yang harus dicari ataupun lensa apa yg harus dipergunakan.Penggunaan lensa yg tidak standard seperti fish-eye (baik itu yang diagonal maupun yang full-circular) bisa juga mendapatkan view yang menarik, tentu dgn pengunaan pada saat yang tepat. Tidak selalu penggunaan fish-eye menghasilkan foto yg “bagus” walau memang berbeda.</div>
<div>
<h2><strong>14. Persiapkan diri dan sesuaikan peralatan</strong></h2>
<p>Walau ini tidak berhubungan langsung, tapi kadang sangat menentukan. Sering kali kita membutuhkan research atau tanya dulu kiri kanan, baik itu dgn googling atau bertanya dgn fotografer yang sudah pernah kesana ke satu lokasi sebelumnya, terutama jika mengunjungi tempat yang berbeda jauh iklim maupun cuacanya, krn itu akan menentukan kesiapan kita baik fisik maupun peralatan yang harus dibawa, baik itu peralatan fotografi maupun peralatan penunjang.<br />
Cek ulang dan test semua camera dan lensa yang akan dibawa.<br />
Akan lebih baik kalau semua perlataan yang akan dibawa dalam keadaan bersih, baik itu lensanya, filter2 maupun kamera (sensor) nya.</p>
<p>Membawa semua lensa yang kita punya kadang tidak bijaksana. Mungkin suatu trip hanya membutuhkan satu atau dua lensa saja, atau justru membutuhkan lebih dr itu krn kita sudah mempunyai gambaran atau informasi atau trip tersebut merupakan pengulangan trip yg sudah pernah dilakukan.</p>
<p>Mengetahui alam dan lingkungan dan adat (jika ada penduduknya) dari lokasi pemotretan juga akan sangat membantu.<br />
Bahkan kadang dgn membawa peta (atau mungkin GPS) akan membantu kita menemukan suatu tempat atau spot, khususnya bila kita hunting di daerah ayng tidak ketahui atau lokasi yang kita tidak hapal.</p>
<p>Hal lain yang tidak kalah penting adalah melindung seluruh peralatan yang anda bawa selama photo trip/hunting, baik itu hanya day-trip, overnight trip atau trip berhari-hari bahkan berminggu-minggu.<br />
Sebelum berangkat, pastikan anda memilki check-list perlaatan apa saja yg anda bawa. Catat juga semua model dan serial numbernya.</p>
<h3>Untuk kiat-kiat melindungi peralatan/gear anda:</h3>
<ul>
<li><strong></strong>Simpanlah peralatan kamera anda dalam tasnya jika tidak dipergunakan. Beli dan pergunakanlah padlock/gembok dgn kualitas yang cukup baik untuk menguncinya.</li>
<li><strong></strong>Jika anda menginap diasuatu hotel/ motel/ hostel, jangan tinggalkan peralatan anda tergeletak diatas meja atau di atas tempat tidur jika meninggalkan kamar, walau hanya sebentar, misal untuk keluar makan. Masukkan kembali kedalam tas dan kuncilah.</li>
<li><strong></strong>Jika anda menginap di suatu cottage (biasanya didaerah pantai) atau hotel dengan kamar dilantai dasar, dengan jendela yang dapat terbuka, jangan meletakkan tas anda dekat jendela, baik saat meninggalkan kamar atau pada saat anda tidur. Tas dapat dengan mudah di “kail/pancing” dari luar.</li>
<li><strong></strong>Untuk peralatan lain seperti laptop, gunakan pengaman laptop , seperti kabel pengaman laptop (Notebook lock) buatan Kensington, jenis Microsaver, yang dapat di ikatkan/ dilingkarkan ke suatu benda yang fix/ tetap seperti meja kayu, atau tiang besi.</li>
<li><strong></strong>Pengalaman saya di negara2 dunia ketiga (bukan Indonesia), tidak bijaksana untuk membawa backpack kamera anda untuk memotret. Biasanya yang saya lakuakan adalah saya menggunakan kamera bag hanya untuk media transportasi peralatan saya, missal dari satu kota/tempat ke tempat yang lain. Untuk hunting saya mempergunakan kamer a bag yang lebih kecil atau kamera holder seperti  Toploader/Topload. Kadang2 didaerah yang rawan, adanya kamera backpack dipunggung anda hanya mengiklankan dan mengundang orang2 jahat.</li>
<li><strong></strong>Jika anda terpaksa harus meninggalkan seluruh atau sebagian peralatan anda dalam tas backpack, baik dikamar hotel atau mobil, selain dikunci gembok/padlock, gunakan jaring besi pengaman seperti <strong>Pacsafe </strong>yang sangat kuat melindungi keseluruhan backpack anda dengan prinsip kerja yang sama seperti pelindung laptop yaitu dengan dikaitkan/lingkarkan kesuatu benda yang fix seperti tiang besi, kursi mobil, kayu tempat tidur atau meja.</li>
<li>Sangat penting untuk mengetahui informasi tentang keadaan sekitar suatu tempat tujuan dari orang-orang setempat, baik tentang cara menuju kesana, situasi keamanan atau daerah yang harus dihindari, misalnya dari resepsionis, penjaga pintu/doorman, dll. Sering bertanya, sehingga multiple source adalah lebih berguna dari single source.</li>
<li><strong></strong>Jangan malas-malas, untuk sering-sering melakukan check-count/list atas semua peralatan yang dibawa, misalnya setiap malam sebelum tidur, sambil bersih2 peralatan/lensa. Jadi kalau ada satu item yang hilang dapat diketahui lebih awal… bukannya pada akhir perjalanan setelah tiba dirumah atau meninggalkan tempat tersebut.</li>
</ul>
<p><a title="14 Tips Lanscape" href="http://rini.student.umm.ac.id/download-as-pdf/umm_blog_article_162.pdf" target="_blank">Sumber</a></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iyokjunior.host56.com/?feed=rss2&#038;p=305</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Underwater Photography</title>
		<link>http://iyokjunior.host56.com/?p=297</link>
		<comments>http://iyokjunior.host56.com/?p=297#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 17:11:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suryo</dc:creator>
				<category><![CDATA[» Featured Content]]></category>
		<category><![CDATA[» Photografi]]></category>
		<category><![CDATA[photografi]]></category>
		<category><![CDATA[preview]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iyokjunior.host56.com/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Sejak berkembangnya digital photography, underwater photography menjadi jauh lebih mudah. Kegiatan ini mulai marak di sekitar awal tahun 2000-an (2003-2004). Beberapa tahun yang lalu bahkan saya pernah meramalkan bahwa industri diving di dunia (yang pada saat itu cenderung terus menurun) akan kembali bangkit dengan adanya revolusi digital foto. Ada beberapa alasan untuk itu. Pertama, dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://iyokjunior.host56.com/?p=297" title="Link to Underwater Photography"><img class="wppt_float_left" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-post-thumbnail/F3PICe.jpg" alt="" title="" width="200" height="110" /></a>
				<!-- Social Sharing Toolkit v2.0.4 | http://www.marijnrongen.com/wordpress-plugins/social_sharing_toolkit/ -->
				<div class="mr_social_sharing_wrapper"><span class="mr_social_sharing"><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fiyokjunior.host56.com%2F%3Fp%3D297&amp;text=Underwater+Photography&amp;via=Twitter" target="_blank" class="mr_social_sharing_popup_link"><img src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/plugins/social-sharing-toolkit/images/buttons/twitter.png" alt="Share on Twitter" title="Share on Twitter"/></a></span></div><p>Sejak berkembangnya digital photography, <em>underwater photography</em> menjadi jauh lebih mudah. Kegiatan ini mulai marak di sekitar awal tahun 2000-an (2003-2004). Beberapa tahun yang lalu bahkan saya pernah meramalkan bahwa industri <em>diving</em> di dunia (yang pada saat itu cenderung terus menurun) akan kembali bangkit dengan adanya revolusi digital foto.</p>
<p>Ada beberapa alasan untuk itu. <em>Pertama</em>, dengan fotografi digital, pembuatan gambar di bawah air menjadi relatif jauh lebih mudah dan murah. <em>Kedua</em>, fotografi digital akan memberikan warna kompetisi bagi dunia <em>diving</em> yang selama ini dikenal sebagai <em>non-competitive activity. Ketiga,</em> fotografi digital memberi alasan kepada orang agar tetap menyukai <em>diving</em>. <em>Keempat</em>,  fotografi digital mampu memenuhi &#8220;ego&#8221; seorang penyelam untuk mengaktualisasikan diri. <em>Kelima</em>, fotografi digital memberi kesempatan kepada orang awam untuk menemukan sesuatu yang luar biasa, misalnya menemukan spesies-spesies baru.</p>
<div id="attachment_302" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-302" title="Underwater Photography" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/uploads/2011/11/snorkeling-300x219.jpg" alt="Underwater Photography" width="300" height="219" /><p class="wp-caption-text">Underwater Photography</p></div>
<blockquote><p><em>“Folks behind the camera&#8221; memang sangat menentukan hasil sebuah karya. Apabila di zaman underwater fotografi film kemajuan seseorang cenderung landai dan lama, di zaman digital seperti saat ini, seseorang dapat menjadi seorang underwater fotografer andal dalam waktu yang sangat singkat. Asalkan rajin memotret dan memiliki alatnya (apa pun jenisnya), seseorang dapat menguasai teknis underwater fotografi dengan mudah, selanjutnya yang berperan adalah &#8220;mata&#8221; dan &#8220;rasa&#8221;.</em></p></blockquote>
<p><strong>Instruktur Underwater Photography, Perlukah?</strong></p>
<p>Seorang yang memiliki sertifikat selam bisa melakukan kegiatan pemotretan di bawah air hanya dengan ditemani oleh “<em>buddy”-</em>nya selama kondisi perairan itu sesuai dengan kemampuan, pengetahuan, dan <em>skill</em> yang dimiliki tanpa harus didampingi oleh instruktur atau <em>guide</em>. Kehadiran instruktur diperlukan apabila penyelaman dilakukan berkaitan dengan kursus. Kehadiran <em>guide</em> sebenarnya sangat membantu, misalnya untuk menunjukkan kondisi perairan dan obyek pemotretan di bawah air.</p>
<div id="attachment_303" class="wp-caption aligncenter" style="width: 234px"><img class="size-medium wp-image-303" title="Underwater Photography" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/uploads/2011/11/34954-best_underwater_camera-224x300.jpg" alt="Underwater Photography" width="224" height="300" /><p class="wp-caption-text">Underwater Photography</p></div>
<p>Pelatihan <em>underwater photography</em> yang bersertifikat harus dilakukan oleh seorang instruktur <em>diving</em> yang memiliki kualifikasi tambahan sebagai <em>underwater specialty instructor</em>. Kursus semacam ini bisa ditemui di <em>dive center</em> atau pusat selam yang tersebar di Jakarta, Bali, Lombok, atau Manado.</p>
<p>Tempat kursus <em>underwater photography</em> minimal bisa memberi Anda <em>background</em> tentang teori dan teknis pemotretan di bawah air, sehingga proses <em>&#8220;try and error&#8221;</em> dapat diminimalisasi dan Anda bisa menghasilkan foto-foto yang baik dalam waktu yang lebih singkat.</p>
<p>Idealnya, seorang instruktur <em>underwater photography</em> juga seorang instruktur <em>diving</em> yang berpengalaman. Sebab, sangat banyak trik dan tips pengambilan gambar di bawah air yang berkaitan dengan teknik-teknik <em>diving,</em> apalagi kalau sudah mencakup segi keamanan, lingkungan, pergerakan penyelam, makhluk-makhluk bawah air dan isu-isu konservasi.</p>
<p>Seorang instruktur <em>underwater photography</em> yang baik tidak hanya mengajarkan dasar-dasar teknis fotografi secara mendalam, tapi juga memberikan trik dan tips yang mungkin tidak ada dalam buku manual. Kursus <em>underwater photography</em> yang lengkap ditambah dengan sedikit pengalaman dan pengetahuan tambahan, tidak saja membuat Anda dapat mengambil gambar dengan bagus, tapi juga menjadikan hasil karya foto Anda bermakna dan mempunyai ciri khas. Dan biasanya ciri khas itulah yang akhirnya membedakan seorang fotografer dengan fotografer lainnya.</p>
<p>Apakah menjadi fotografer andal hanya dapat dicapai melalui kursus? Tentu saja tidak, dengan banyak membaca buku, melihat karya orang lain, tidak malu bertanya, banyak berdiskusi, banyak menyelam, dan banyak memotret, seseorang juga dapat menjadi fotografer yang andal. Tapi,  biasanya prosesnya membutuhkan waktu yang jauh lebih lama bila dibandingkan dengan orang yang mengambil kursus atau seminar yang tepat.</p>
<p><strong>Syarat-Syarat Menggeluti Underwater Photography</strong></p>
<p>Untuk menekuni fotografi bawah air, diperlukan <em>skill</em> dan pengetahuan yang sedikit berbeda dengan fotografi darat. Seorang fotografer bawah air memiliki waktu yang sangat terbatas dalam setiap sesi foto. Lamanya penyelaman pun sangat bergantung pada kedalaman, ukuran tabung selam, kondisi lingkungan, dan kondisi tubuh si fotografer. Misalnya, menyelam di daerah berarus tentunya akan lebih cepat menghabiskan udara. Penyelaman di daerah yang sangat dalam juga menghabiskan banyak udara sehingga waktunya jadi terbatas.</p>
<p>Kendala utama pemotretan di bawah air adalah stabilitas fotografer pada saat mengambil gambar. Di darat kita bisa berdiri, bahkan bisa menggunakan tripod sehingga stabil. Sementara di bawah air kita senantiasa &#8220;terbang&#8221; dan tidak bisa mendapatkan pijakan yang solid. Untuk foto <em>macro</em>, kita masih bisa &#8220;berdiam&#8221; di dasar (tentunya sambil memperhatikan sekeliling sehingga tidak merusak terumbu karang, terserang binatang laut berbahaya, atau mengaduk-aduk bagian dasar sehingga merusak jarak pandang).</p>
<p>Untuk mengatasi kendala pertama tadi, seorang fotografer bawah laut wajib hukumnya memiliki keterampilan &#8220;<em>buoyancy</em>&#8221; yang baik. Semakin baik skill <em>buoyancy</em>, semakin stabil pula posisi si fotografer.</p>
<div id="attachment_300" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-300" title="Underwater Photography" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/uploads/2011/11/padi-underwater-photography-course-300x199.jpg" alt="Underwater Photography" width="300" height="199" /><p class="wp-caption-text">Underwater Photography</p></div>
<p>Waktu yang tepat untuk melakukan kegiatan <em>underwater photography</em> sangat bergantung pada kondisi perairan dan tujuan pemotretan, serta apa yang akan dipotret. Tapi secara umum, cahaya matahari terbaik biasanya sekitar pukul 10-pukul 14, agak berbeda dengan pemotretan di darat. Sebab, pada jam-jam tersebut penetrasi cahaya matahari paling baik untuk pemotretan di bawah air.</p>
<p>Bahaya-bahaya yang mungkin mengancam saat kita sedang melakukan  kegiatan ini relatif sama dengan bahaya penyelaman pada umumnya. Meski demikian, ada bahaya tambahan, yaitu terpisah dari <em>buddy</em>, disorientasi, waktu penyelaman yang “kebablasan”, atau kedalaman penyelaman yang meningkatkan risiko penyakit dekompresi serta kedinginan.</p>
<p><strong>Jenis-Jenis  Kamera dan Peralatan Lainnya </strong></p>
<p>Kamera khusus fotografi bawah air sebenarnya hanyalah sebuah kamera &#8220;darat&#8221; yang dilengkapi <em>housing</em> (rumah kedap air). Sekarang sudah banyak kamera poket yang memiliki <em>housing</em>. Kamera poket standar yang banyak dijual sebenarnya sudah dapat digunakan untuk mengambil gambar di bawah air, walaupun hanya efektif untuk memotret obyek berukuran sekitar 3-15 cm dengan jarak pemotretan sekitar 5 &#8211; 30 cm.</p>
<p>Penggunaan kamera poket untuk pemotretan <em>macro</em> adalah jenis fotografi bawah air yang paling mudah dilakukan. Dengan memilih obyek yang tidak bergerak, si fotografer hanya perlu mengatur intensitas cahaya dan mendekati obyek, memfokuskan gambar, dan memotretnya.</p>
<p>Kamera poket standar ini juga lumayan apabila digunakan untuk pemotretan siluet. Untuk pemotretan <em>wide angle</em>, kamera poket bisa dilengkapi dengan tambahan lensa dan <em>external flash</em>. Risiko <em>vignet</em> biasanya menjadi kendala apabila kamera poket dipakai untuk memotret <em>wide angle</em> dengan menggunakan lensa tambahan. Pengaturan <em>white balance</em> yang optimal serta penambahan filter merupakan pilihan untuk mengurangi warna biru yang sangat dominan pada foto <em>wide angle</em>.</p>
<p>Kamera DSLR memiliki keunggulan sendiri dalam mereproduksi warna di bawah air. Dengan sensor yang relatif lebih besar, kendala <em>noise</em> bisa diminimalkan. Kualitas lensa DSLR -pun cenderung lebih baik dibanding kamera poket.</p>
<p>Selama ini, lensa DSLR yang paling populer untuk pemotretan bawah air adalah 10,5 mm, 12-24 mm, 17-35 mm (untuk lensa <em>wide </em>dan<em> zoom</em>), 60 mm <em>macro,</em> 105 mm <em>macro</em> (<em>macro</em>), dan 180 mm atau 200 mm <em>macro</em> (<em>extreme macro</em>). Di bawah air, <em>focal length</em> lensa-lensa ini akan berubah dengan faktor 1,33 x. Jadi, untuk mendapatkan efek <em>wide</em>, kita membutuhkan lensa darat yang benar-benar <em>wide</em> (belum lagi memperhitungkan <em>cropping factor</em> dari sensor kamera yang digunakan, kecuali bila Anda memakai <em>full frame sensor</em>).</p>
<p>Karena air adalah filter raksasa yang mampu menyerap gelombang cahaya matahari, maka reproduksi warna di bawah air menjadi kendala tersendiri bagi dunia fotografi bawah air. Pada kedalaman sekitar 3-5 m, kita sudah hampir kehilangan warna merah. Selanjutnya, semakin dalam menyelam, warna-warna jingga, kuning, hijau, dan seterusnya juga menghilang. Pada kedalaman sekitar 20 m, bila tidak menggunakan <em>flash,</em> kita hanya akan merekam warna biru saja. Hal ini diperburuk lagi apabila kondisi airnya keruh.</p>
<p>Untuk mendapatkan warna asli yang ada pada obyek, wajib hukumnya menggunakan <em>flash.</em> Tanpa <em>flash</em>, semua obyek yang kita potret akan berwarna biru atau hijau atau <em>cyan</em> yang berlebihan. Kekuatan <em>flash</em> pun mempengaruhi sejauh mana warna akan timbul. Sayangnya walaupun kita menggunakan <em>flash</em> paling kuat pun, jangkauan <em>flash</em> hanya sekitar 3-4 m.</p>
<p>Aturan yang paling penting untuk memproduksi warna di bawah air adalah mendekati obyek. Semakin dekat, semakin baik. Kalau Anda sudah merasa dekat, artinya Anda masih kurang dekat. Sedekat apa kita dengan obyek pada kenyataannya sangat dipengaruhi oleh lensa yang digunakan, komposisi yang diinginkan, kondisi lingkungan dan obyek yang akan dipotret, serta keterampilan kita di bawah air.</p>
<div id="attachment_298" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-298" title="Underwater Photography" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/uploads/2011/11/17-red-turtle-underwater-photography-300x224.jpg" alt="Underwater Photography" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Underwater Photography</p></div>
<p><strong>Tempat-Tempat Eksotis</strong></p>
<p>Yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk ajang kegiatan  fotografi bawah air  adalah semua jenis perairan yang kondisinya relatif aman untuk penyelaman dan memungkinkan dilakukannya pengambilan gambar.</p>
<p>Menurut saya, semua lokasi penyelaman di Indonesia memiliki keunikan tersendiri dan layak untuk diabadikan. Beberapa lokasi yang terkenal yaitu Aceh, Ujung Kulon, Krakatau, Bali, Lombok, Komodo, Flores, Alor, Derawan, Wakatobi, Manado, Lembeh, Raja Ampat, dan masih banyak lagi. Indonesia adalah pusat terumbu karang dunia dan tempat terindah untuk melakukan penyelaman dan tentunya untuk melakukan pemotretan bawah air.</p>
<p><strong>Memotret Ikan </strong></p>
<p>Fotografi bawah air termasuk bagian dari <em>wild life photography</em>. Selayaknya <em>wild life photography</em>, seorang fotografer harus mempelajari dengan seksama tingkah laku obyek foto yang akan diambil. Kadang-kadang tidak mudah mencari seekor ikan tertentu apabila kita tidak mengenal habitatnya. Akan lebih sulit lagi mendapatkan foto yang baik apabila kita tidak mengenal karakter ikan yang ingin kita potret, bahkan untuk beberapa kasus bisa berbahaya.</p>
<p>Pergerakan penyelam dan ikan-ikan <em>pelagic</em> harus dipelajari apabila kita ingin mendapatkan posisi yang tepat dalam pengambilan foto <em>wide</em>.</p>
<p><strong>Memotret Model Wanita Cantik</strong></p>
<p>Fotografi bawah air dengan menggunakan model juga merupakan tantangan tersendiri. Fotografi jenis ini masih sangat baru di Indonesia, dan sangat jarang dijumpai di dunia. Hal ini tidaklah mengherankan. Sebab, kesulitan yang timbul pada sesi memotret model menjadi sangatlah bervariasi. Kesulitan ini tidak hanya ditemui saat men-<em>setting</em> lokasi, tapi juga pada diri si fotografer, <em>crew</em>, dan modelnya sendiri. Seorang model bawah air yang baik harus memiliki mental dan fisik yang kuat, serta ditunjang dengan pengetahuan dan keterampilan yang baik. Membuat seorang model yang mampu berpose secara natural di bawah air tanpa peralatan apa pun merupakan usaha yang membutuhkan latihan yang terus-menerus.</p>
<div id="attachment_299" class="wp-caption aligncenter" style="width: 255px"><img class="size-medium wp-image-299" title="Underwater Photography" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/uploads/2011/11/Underwater_09-245x300.jpg" alt="Underwater Photography" width="245" height="300" /><p class="wp-caption-text">Underwater Photography</p></div>
<p>Di darat, mudah bagi kita untuk mengarahkan si model, tapi di bawah air sana hal ini menjadi kendala tersendiri. Sebab kita harus berinteraksi dengan model hanya dengan mengandalkan &#8220;<em>hand signal</em>&#8220;. Walaupun sekarang sudah ada alat komunikasi bawah air, namun harganya cukup mahal. Biasanya model bawah air (khususnya di laut) dipotret dengan menggunakan peralatan <em>scuba</em> lengkap.</p>
<p>Pemotretan model di bawah air (laut) pada kedalaman lebih dari 2 meter tanpa menggunakan <em>scuba</em> memerlukan keterampilan yang harus dilatih secara khusus. Sebab, risiko bagi si model sangatlah besar, terutama risiko tenggelam (air masuk ke paru-paru) atau bahkan paru-parunya pecah. Persiapan pemotretan jenis ini harus direncanakan secara teliti, termasuk melatih model tentang cara berinteraksi dengan <em>safety diver</em> dan fotografernya. Dalam hal ini si fotografer hanya memiliki waktu yang sangat sempit untuk mengambil gambar si model.</p>
<p>Sesi pemotretan model bawah laut (tanpa peralatan) harus memenuhi syarat keselamatan yang berlapis tiga. Lapis pertama adalah kemampuan model dalam beraktivitas di bawah air dengan tingkat keterampilan yang optimum. Lapis kedua adalah kemampuan <em>safety diver</em> dalam mengenali tanda-tanda “khusus” yang mungkin membahayakan si model. Dan lapis terakhir adalah kemampuan fotografer sebagai “pagar pengaman terakhir”. Maksudnya, apabila model ataupun <em>safety diver</em> gagal mengantisipasi masalah, fotografer harus mampu mengambil tindakan keamanan untuk mencegah timbulnya kecelakaan.</p>
<p>Itulah sepenggal pengetahuan yang bisa saya <em>sharing</em> seiring dengan berkembangnya kegiatan fotografi bawah laut. Mudah-mudahan cerita ini bisa meningkatkan <em>awareness</em> masyarakat terhadap kehidupan dan kelestarian alam bawah air yang kini tengah menghadapi ancaman serius akibat tindakan manusia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iyokjunior.host56.com/?feed=rss2&#038;p=297</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknik Dasar Photografi</title>
		<link>http://iyokjunior.host56.com/?p=290</link>
		<comments>http://iyokjunior.host56.com/?p=290#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 14:39:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suryo</dc:creator>
				<category><![CDATA[» Featured Content]]></category>
		<category><![CDATA[» Photografi]]></category>
		<category><![CDATA[photografi]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iyokjunior.host56.com/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Fotografi digital memudahkan kita memahami dunia fotografi, hasil jepretan langsung bisa di review melalui jendela LCD, sehingga kita bisa mengevaluasi hasil jepretan, karena data teknis yg berkaitan dengan Jepretan tadi terlihat dan terekam, berbeda dengan Fotografi Konvensional, dimana kita harus mencetaknya dulu baru dapat melihat, me-review dan mengevaluasi hasil jeperetan, data teknis-nya pun kita harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://iyokjunior.host56.com/?p=290" title="Link to Teknik Dasar Photografi"><img class="wppt_float_left" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-post-thumbnail/S1tzGC.jpg" alt="" title="" width="200" height="110" /></a>
				<!-- Social Sharing Toolkit v2.0.4 | http://www.marijnrongen.com/wordpress-plugins/social_sharing_toolkit/ -->
				<div class="mr_social_sharing_wrapper"><span class="mr_social_sharing"><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fiyokjunior.host56.com%2F%3Fp%3D290&amp;text=Teknik+Dasar+Photografi&amp;via=Twitter" target="_blank" class="mr_social_sharing_popup_link"><img src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/plugins/social-sharing-toolkit/images/buttons/twitter.png" alt="Share on Twitter" title="Share on Twitter"/></a></span></div><p>Fotografi digital memudahkan kita memahami dunia fotografi, hasil jepretan langsung bisa di review melalui jendela LCD, sehingga kita bisa mengevaluasi hasil jepretan, karena data teknis yg berkaitan dengan Jepretan tadi terlihat dan terekam, berbeda dengan Fotografi Konvensional, dimana kita harus mencetaknya dulu baru dapat melihat, me-review dan mengevaluasi hasil jeperetan, data teknis-nya pun kita harus mencatatnya terlebih dahulu, sehingga butuh banyak biaya dan waktu yg terbuang untuk bisa memperbaiki kemampuan fotografi kita.<br />
Seni Fotografi digital bisa diibaratkan sebagai melukis dengan cahaya, dalam hal ini kamera dan Lensa yang menggantikan peran kuas dan cat. Ada dua hal yg memegang peranan terpenting dalam kamera dan lensa, yaitu Shutter Speed dan Aperture.<br />
Shutter Speed adalah lamanya waktu yg diperlukan untuk menyinari sensor CMOS ato CCD pada kamera digital, dan Film pada kamera konvensional. Pada Kemera tertera angka-angka 250,125,60,30,15 dst. Ini berarti lamanya penyinaran adalah 1/250 detik, 1/125 detik, 1/60 detik, dst.<br />
Semakin besar angkanya berarti semakin cepat waktu yg digunakan, hal ini akan menciptakan efek diam (freeze), misalnya kita akan memotret objek yg sedang bergerak, misal mobil, dengan efek diam, kita memerlukan setidaknya shutter speed diatas 1/125 detik.<br />
Sebaliknya bila kita akan memotret objek tersebut dengan efek bergerak, maka dibutuhkan shutter speed kurang dari 1/125 detik, sebaiknya dilakukan dengan cara mengikuti arah gerak objek, hal ini disebut teknik panning,<br />
Dua hal diatas tergantung juga dari kecepatan objek tersebut bergerak, semakin cepat objek bergerak, berarti semakin tinggi shutter speed yg dibutuhkan agar memperoleh efek diam atau bergerak yang kita inginkan, Perlu diperhatikan, semakin rendah shutter speed, akan mengakibatkan semakin besar juga kemungkinan terjadinya camera shaking, yg akan mengakibatkan hasil jepretan menjadi goyang dan tidak tajam.<br />
Agar aman, gunakan shutter speed diatas 30 atau 1/30 detik, kalo memang menginginkan shutter speed lebih rendah, misal 1/15 detik, 1/8 detik ato yg lebih rendah, gunakan gunakan penyangga ato tripod.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iyokjunior.host56.com/?feed=rss2&#038;p=290</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Shutter Speed</title>
		<link>http://iyokjunior.host56.com/?p=269</link>
		<comments>http://iyokjunior.host56.com/?p=269#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Aug 2011 18:46:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suryo</dc:creator>
				<category><![CDATA[» Photografi]]></category>
		<category><![CDATA[» Tips & Trik]]></category>
		<category><![CDATA[photografi]]></category>
		<category><![CDATA[preview]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iyokjunior.host56.com/?p=269</guid>
		<description><![CDATA[Secara definisi, shutter speed adalah rentang waktu saat shutter di kamera anda terbuka. Secara lebih mudah, shutter speed berarti waktu dimana sensor kita ‘melihat’ subyek yang akan kita foto. Gampangnya shutter speed adalah waktu antara kita memencet tombol shutter di kamera sampai tombol ini kembali ke posisi semula. Supaya mudah, kita terjemahkan konsep ini dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://iyokjunior.host56.com/?p=269" title="Link to Memahami Shutter Speed"><img class="wppt_float_left" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-post-thumbnail/HilW8t.jpg" alt="" title="" width="200" height="110" /></a>
				<!-- Social Sharing Toolkit v2.0.4 | http://www.marijnrongen.com/wordpress-plugins/social_sharing_toolkit/ -->
				<div class="mr_social_sharing_wrapper"><span class="mr_social_sharing"><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fiyokjunior.host56.com%2F%3Fp%3D269&amp;text=Memahami+Shutter+Speed&amp;via=Twitter" target="_blank" class="mr_social_sharing_popup_link"><img src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/plugins/social-sharing-toolkit/images/buttons/twitter.png" alt="Share on Twitter" title="Share on Twitter"/></a></span></div><p>Secara definisi, shutter speed adalah rentang waktu saat shutter di kamera anda terbuka. Secara lebih mudah, shutter speed berarti waktu dimana sensor kita ‘melihat’ subyek yang akan kita foto. Gampangnya shutter speed adalah waktu antara kita memencet tombol shutter di kamera sampai tombol ini kembali ke posisi semula.</p>
<p>Supaya mudah, kita terjemahkan konsep ini dalam beberapa penggunaannya di kamera:</p>
<ol>
<li>Setting shutter speed sebesar 500 dalam kamera anda berarti rentang waktu sebanyak 1/500 (seperlimaratus) detik. Ya, sesingkat dan sekilat itu. Sementara untuk waktu eksposur sebanyak 30 detik, anda akan melihat tulisan seperti ini: 30’’</li>
<li>Setting shutter speed di kamera anda biasanya dalam kelipatan 2, jadi kita akan melihat deretan seperti ini: 1/500, 1/250, 1/125, 1/60, 1/30 dst. Kini hampir semua kamera juga mengijinkan setting 1/3 stop, jadi kurang lebih pergerakan shutter speed yang lebih rapat; 1/500, 1/400, 1/320, 1/250, 1/200, 1/160 … dst.</li>
<li>Untuk menghasilkan foto yang tajam, gunakan shutter speed yang aman. Aturan aman dalam kebanyakan kondisi adalah setting shutter speed 1/60 atau lebih cepat, sehingga foto yang dihasilkan akan tajam dan aman dari hasil foto yang berbayang (blur/ tidak fokus). Kita bisa mengakali batas aman ini dengan tripod atau menggunakan fitur Image Stabilization.</li>
<li>Batas shutter speed yang aman lainnya adalah: shutter speed kita harus lebih besar dari panjang lensa kita. Jadi kalau kita memakai lensa 50mm, gunakan shutter minimal 1/60 detik. Jika kita memakai lensa 17mm, gunakan shutter speed 1/30 det.</li>
<li>Shutter speed untuk membekukan gerakan. Gunakan shutter speed setinggi mungkin yang bisa dicapai untuk membekukan gerakan. Semakin cepat obyek bergerak yang ingin kita bekukan dalam foto, akan semakin cepat shutter speed yang dibutuhkan. Untuk membekukan gerakan burung yang terbang misalnya, gunakan mode Shutter Priority dan set shutter speed di angka 1/1000 detik (idealnya ISO diset ke opsi auto) supaya hasilnya tajam. Kalau anda perhatikan, fotografer olahraga sangat mengidolakan mode S/Tv ini.</li>
<li>Blur yang disengaja – shutter speed untuk menunjukkan efek gerakan. Ketika memotret benda bergerak, kita bisa secara sengaja melambatkan shutter speed kita untuk menunjukkan efek pergerakan. Pastikan anda mengikutkan minimal satu obyek diam sebagai jangkar foto tersebut.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_271" class="wp-caption aligncenter" style="width: 405px"><img class="size-full wp-image-271 " title="shutterspeed" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/uploads/2011/08/shutterspeed.jpg" alt="shutterspeed" width="395" height="746" /><p class="wp-caption-text">shutterspeed</p></div>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iyokjunior.host56.com/?feed=rss2&#038;p=269</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Konsep ISO</title>
		<link>http://iyokjunior.host56.com/?p=262</link>
		<comments>http://iyokjunior.host56.com/?p=262#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Aug 2011 18:24:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suryo</dc:creator>
				<category><![CDATA[» Photografi]]></category>
		<category><![CDATA[» Tips & Trik]]></category>
		<category><![CDATA[photografi]]></category>
		<category><![CDATA[preview]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iyokjunior.host56.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Secara definisi ISO adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera terhadap cahaya. Semakin tinggi setting ISO kita maka semakin sensitif sensor terhada cahaya. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang setting ISO di kamera kita (ASA dalam kasus fotografi film), coba bayangkan mengenai sebuah komunitas lebah. Sebuah ISO adalah sebuah lebah pekerja. Jika kamera saya set di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://iyokjunior.host56.com/?p=262" title="Link to Memahami Konsep ISO"><img class="wppt_float_left" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-post-thumbnail/1tuFIZ.jpg" alt="" title="" width="200" height="110" /></a>
				<!-- Social Sharing Toolkit v2.0.4 | http://www.marijnrongen.com/wordpress-plugins/social_sharing_toolkit/ -->
				<div class="mr_social_sharing_wrapper"><span class="mr_social_sharing"><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fiyokjunior.host56.com%2F%3Fp%3D262&amp;text=Memahami+Konsep+ISO&amp;via=Twitter" target="_blank" class="mr_social_sharing_popup_link"><img src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/plugins/social-sharing-toolkit/images/buttons/twitter.png" alt="Share on Twitter" title="Share on Twitter"/></a></span></div><p>Secara definisi ISO adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera terhadap cahaya. Semakin tinggi setting ISO kita maka semakin sensitif sensor terhada cahaya.</p>
<p>Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang setting ISO di kamera kita (ASA dalam kasus fotografi film), coba bayangkan mengenai sebuah komunitas lebah. Sebuah ISO adalah sebuah lebah pekerja. Jika kamera saya set di ISO 100, artinya saya memiliki 100 lebah pekerja. Dan jika kamera saya set di ISO 200 artinya saya memiliki 200 lebah pekerja.</p>
<p>Tugas setiap lebah pekerja adalah memungut cahaya yang masuk melalui lensa kamera dan membuat gambar. Jika kita menggunakan lensa identik dan aperture sama-sama kita set di f/3.5 namun saya mengeset ISO saya di 200 sementara anda 100 (bayangkan lagi tentang lebah pekerja), maka gambar punya siapakah yang akan lebih cepat selesai?</p>
<p>Secara garis besar, saat kita menambah setting ISO dari 100 ke 200 ( dalam aperture yang selalu konstan – kita kunci aperture di f/3.5 atau melalui mode Aperture Priority – A atau Av) , kita mempersingkat waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan sebuah foto di sensor kamera kita sampai separuhnya (2kali lebih cepat), dari shutter speed 1/125 ke 1/250 detik. Saat kita menambah lagi ISO ke 400, kita memangkas waktu pembuatan foto sampai separuhnya lagi:1/500 detik. Setiap kali mempersingkat waktu esksposur sebanyak separuh , kita namakan menaikkan esksposur sebesar 1stop.</p>
<div id="attachment_263" class="wp-caption aligncenter" style="width: 530px"><img class="size-full wp-image-263 " title="Konsep ISO" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/uploads/2011/08/iso.jpg" alt="Konsep ISO" width="520" height="780" /><p class="wp-caption-text">Konsep ISO</p></div>
<p>Anda bisa mencoba pengertian ini dalam kasus aperture, cobalah set shutter speed kita selalu konstan pada 1/125 (atau melalui mode Shutter Priority – S atau Tv), dan ubah-ubahlah setting ISO anda dalam kelipatan 2; missal dari 100 ke 200 ke 400 …dst, lihatlah perubahan besaran aperture anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iyokjunior.host56.com/?feed=rss2&#038;p=262</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Konsep Exposure</title>
		<link>http://iyokjunior.host56.com/?p=253</link>
		<comments>http://iyokjunior.host56.com/?p=253#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Aug 2011 18:10:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suryo</dc:creator>
				<category><![CDATA[» Photografi]]></category>
		<category><![CDATA[» Tips & Trik]]></category>
		<category><![CDATA[photografi]]></category>
		<category><![CDATA[preview]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iyokjunior.host56.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali setelah membeli kamera digital baik slr maupun point &#38; shoot, kita terpaku pada mode auto untuk waktu yang cukup lama. Mode auto memang paling mudah dan cepat, namun tidak memberikan kepuasan kreatifitas. Bagi yang ingin “lulus  dan naik kelas” dari mode auto serta ingin meyalurkan jiwa kreatif  kedalam foto-foto yang dihasilkan, ada baiknya kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://iyokjunior.host56.com/?p=253" title="Link to Memahami Konsep Exposure"><img class="wppt_float_left" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-post-thumbnail/Qu32Xo.jpg" alt="" title="" width="200" height="110" /></a>
				<!-- Social Sharing Toolkit v2.0.4 | http://www.marijnrongen.com/wordpress-plugins/social_sharing_toolkit/ -->
				<div class="mr_social_sharing_wrapper"><span class="mr_social_sharing"><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fiyokjunior.host56.com%2F%3Fp%3D253&amp;text=Memahami+Konsep+Exposure&amp;via=Twitter" target="_blank" class="mr_social_sharing_popup_link"><img src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/plugins/social-sharing-toolkit/images/buttons/twitter.png" alt="Share on Twitter" title="Share on Twitter"/></a></span></div><p>Seringkali setelah membeli kamera digital baik slr maupun point &amp; shoot, kita terpaku pada mode auto untuk waktu yang cukup lama. Mode auto memang paling mudah dan cepat, namun tidak memberikan kepuasan kreatifitas.</p>
<p>Bagi yang ingin “lulus  dan naik kelas” dari mode auto serta ingin meyalurkan jiwa kreatif  kedalam foto-foto yang dihasilkan, ada baiknya kita pahami konsep eksposur. Fotografer kenamaan, Bryan Peterson, telah menulis sebuah buku berjudul <em>Understanding Exposure</em> yang didalamnya diterangkan konsep eskposur secara mudah.</p>
<p>Peterson member ilustrasi tentang tiga elemen yang harus diketahui untuk memahami eksposur, dia menamai hubungan ketiganya sebagai sebuah Segitiga Fotografi. Setiap elemen dalam segitiga fotografi ini berhubungan dengan cahaya, bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan kamera.</p>
<div>
<div id="attachment_254" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/uploads/2011/08/long-konsep-exposure.jpg"><img class="size-medium wp-image-254" title="Long Konsep Exposure" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/uploads/2011/08/long-konsep-exposure-300x200.jpg" alt="Long Konsep Exposure" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Long Konsep Exposure</p></div>
</div>
<p>Ketiga elemen tersebut adalah:</p>
<blockquote>
<ol>
<li>ISO – ukuran seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya</li>
<li>Aperture – seberapa besar lensa terbuka saat foto diambil</li>
<li>Shutter Speed – rentang waktu “jendela’ didepan sensor kamera terbuka</li>
</ol>
</blockquote>
<p>Interaksi ketiga elemen inilah yang disebut eksposur.  Perubahan dalam salah satu elemen akan mengakibatkan perubahan dalam elemen lainnya.</p>
<p><strong>Perumpamaan Segitiga Eksposur</strong></p>
<p>Mungkin jalan yang paling mudah dalam memahami eksposur adalah dengan memberikan sebuah perumpamaan. Dalam hal ini saya menyukai perumpamaan segitiga eksposur seperti halnya sebuah keran air. Shutter speed bagi saya adalah berapa lama kita membuka keran, aperture adalah  seberapa lebar kita membuka keran dan ISO adalah kuatnya dorongan air dari PDAM, dan air yang mengalir melalui keran tersebut adalah cahaya yang diterima sensor kamera. Tentu bukan perumpamaan yang sempurna, tapi paling tidak kita mendapat ide dasarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iyokjunior.host56.com/?feed=rss2&#038;p=253</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Aperture &amp; Depth of Field</title>
		<link>http://iyokjunior.host56.com/?p=244</link>
		<comments>http://iyokjunior.host56.com/?p=244#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Aug 2011 17:44:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suryo</dc:creator>
				<category><![CDATA[» Photografi]]></category>
		<category><![CDATA[» Tips & Trik]]></category>
		<category><![CDATA[photografi]]></category>
		<category><![CDATA[preview]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://iyokjunior.host56.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Definisi aperture adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (bukaan lensa) saat kita mengambil foto. Saat kita memencet tombol shutter, lubang di depan sensor kamera kita akan membuka, nah setting aperture-lah yang menentukan seberapa besar lubang ini terbuka. Semakin besar lubang terbuka, makin banyak jumlah cahaya yang akan masuk terbaca oleh sensor. Aperture atau bukaan dinyatakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://iyokjunior.host56.com/?p=244" title="Link to Memahami Aperture & Depth of Field"><img class="wppt_float_left" src="http://iyokjunior.host56.com/wp-post-thumbnail/YNNx0c.jpg" alt="" title="" width="200" height="110" /></a>
				<!-- Social Sharing Toolkit v2.0.4 | http://www.marijnrongen.com/wordpress-plugins/social_sharing_toolkit/ -->
				<div class="mr_social_sharing_wrapper"><span class="mr_social_sharing"><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fiyokjunior.host56.com%2F%3Fp%3D244&amp;text=Memahami+Aperture+%26+Depth+of+Field&amp;via=Twitter" target="_blank" class="mr_social_sharing_popup_link"><img src="http://iyokjunior.host56.com/wp-content/plugins/social-sharing-toolkit/images/buttons/twitter.png" alt="Share on Twitter" title="Share on Twitter"/></a></span></div><p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="different-aperture-openings-500x449" src="http://dcblog.web.id/wp-content/uploads/2011/05/different-aperture-openings-500x449.jpg" alt="" width="500" height="449" /></p>
<p style="text-align: left;">Definisi aperture adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (bukaan lensa) saat kita mengambil foto.</p>
<p>Saat kita memencet tombol shutter, lubang di depan sensor kamera kita akan membuka, nah setting aperture-lah yang menentukan seberapa besar lubang ini terbuka. Semakin besar lubang terbuka, makin banyak jumlah cahaya yang akan masuk terbaca oleh sensor.</p>
<div><img class="aligncenter" title="aperture" src="http://belajarfotografi.com/wp-content/uploads/Untitled-1.png" alt="aperture" width="175" height="140" /></div>
<div style="text-align: left;">Aperture atau bukaan dinyatakan dalam satuan f-stop. Sering kita membaca istilah bukaan/aperture 5.6, dalam bahasa fotografi yang lebih resmi bisa dinyatakan sebagai f/5.6. Seperti diungkap diatas, fungsi utama aperture adalah sebagai pengendali seberapa besar lubang didepan sensor terbuka. Semakin kecil angka f-stop berarti semakin besar lubang ini terbuka (dan semakin banyak volume cahaya yang masuk) serta sebaliknya, semakin besar angka f-stop semakin kecil lubang terbuka.</div>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 0pt none;" title="aperture" src="http://belajarfotografi.com/wp-content/uploads/aperture.jpg" alt="aperture" width="400" height="150" border="0" /></p>
<p style="text-align: left;">Jadi dalam kenyataannya, setting aperture f/2.8 berarti bukaan yang jauh lebih besar dibandingkaan setting f/22 misalnya (anda akan sering menemukan istilah <em>fully open</em> jika mendengar obrolan fotografer). Jadi bukaan lebar berarti makin kecil angka f-nya dan bukaan sempit berarti makin besar angka f-nya.</p>
<p><strong>Depth of Field </strong></p>
<p>Depth of field – DOF, adalah ukuran seberapa jauh bidang fokus dalam foto. Depth of Field (DOF) yang lebar berarti sebagian besar obyek foto (dari obyek terdekat dari kamera sampai obyek terjauh) akan terlihat tajam dan fokus. Sementara DOF yang sempit (shallow) berarti hanya bagian obyek pada titik tertentu saja yang tajam sementara sisanya akan blur/ tidak fokus.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 0pt none;" title="PICT0235_md" src="http://belajarfotografi.com/wp-content/uploads/PICT0235_md.jpg" alt="PICT0235_md" width="240" height="180" border="0" /></p>
<p style="text-align: left;">Untuk mendapatkan DOF yang lebar gunakan setting aperture yang kecil, misalkan f-22 (makin kecil aperture makin luas jarak fokus) – lihat contoh foto diatas. Sementara untuk mendapat DOF yang sempit, gunakan aperture sebesar mungkin, misal f/2.8.</p>
<p>Konsep Depth of Field ini akan banyak berguna terutama dalam fotografi portrait dan fotografi makro, namun sebenarnya semua spesialisasi akan membutuhkannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://iyokjunior.host56.com/?feed=rss2&#038;p=244</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://stats.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://stats.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->

